Dasar Dasar Pengawasan (MANAJEMEN UMUM)



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kasus-kasus yang sering terjadi dalam banyak organisasi adalah tidak diselesaikannya suatu penugasan, tidak ditepatinya waktu penyelesaian (deadline), suatu anggaran yang berlebihan, dan kegiatan-kegiatan lain yang menyimpang dari rencana. Maka dari itu diperlukan suatu proses pengawasan manajerial sehingga memperoleh jaminan bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan sesuai dengan yang direncanakan.
Inilah sebabnya kami tertarik untuk mengulasnya dalam makalah yang berjudul “Dasar-Dasar Proses Pengawasan” sehingga baik pembaca maupun penyusun makalah mendapatkan pengetahuan tentang proses pengawasan yang baik dan efektif.


B.      Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang dasar-dasar proses dalam pengawasana serta memenuhi tugas kuliah untuk mata kuliah Manajemen umum.

C.    Rumusan masalah
Bagaimana dasar dasar proses pengawasan ?



BAB II
PEMBAHASAN

A.     PENGERTIAN PENGAWASAN
Pengertian pengawasan menurut para ahli:
1.      Menurut winardi (2000, hal. 585)
“Pengawasan adalah semua aktivitas yang dilaksanakan oleh ;pihak manajer dalam upaya memastikan bahwa hasil aktual sesuai dengan hasil yang direncanakan.”
2.      Menurut Basu Swasta (1996, hal. 216)
“pengawasan merupakan fungsi yang menjamin bahwa kegiatan kegiatan dapat memberikan hasil seperti yang diinginkan.”
3.      Menurut komarudin (1994, hal 104)
“pengawasan adalah berhubungan dengan perbandingan antara pelaksana aktual rencana, dan awal untuk langkah perbaikan terhadap rencana yang berarti.”
4.      Menurut kadarman (2001, hal. 159)
Pengawasan adalah suatu upaya yang sistematik untuk menetapkan kinerja standar pada perencanaan untuk merancang sistem umpan balik informasi, untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditentukan, untuk menetapkan apakah telah terjadi sesuatu penyimpangan tersebut, serta untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan telah digunakan seefektif dan seefisien mungkin guna mencapai tujuan perusahaan.
Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pengawasan adalah proses untuk menjamin bahwa tujuan-tujuan organisasi dan manajemen tercapai. Pengertian ini menunjukkan adanya hubungan erat abtara perencanaan dan pengawasan. Fungsi pengawasan manajemen berhubungan erat dengan fungsi-fungsi menajerial. Pengawasan membantu penilaian apakah perencanaan, pengorganisasian, penyusunan personalia, dan pengarahan telah dilaksanakan secara efektif. Dan fungsi pengawasan itu sendiri harus diawasi. Sebagai contoh, apakah laporan-laporan pengawasan akurat?






B.     TIPE-TIPE PENGAWASAN
Ada tiga tipe dasar pengawasan yaitu :
1.      Pengawasan pendahuluan (feedforward control)
Pengawasan pendahuluan atau sering disebut steering control, dirancang untuk mengantisipasi masalah-masalah atau penyimpanan-penyimpanan dari standar atau tujuan dan memungkinkan koreksi dibuat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu diselesaikan. Jadi, pendekatan pengawasan ini lebih aktif dan agresif, dengan mendeteksi masalah-masalah dan mengambil tindakan yang diperlukan sebelum suatu masalah terjadi.
2.      Pengawasan concurrent
Pengawasan ini, sering disebut pengawasan Ya-Tidak, sreening control atau berhenti-terus, dilakukan selama kegiatan berlangsung. Tipe pengawasan ini merupakan proses di mana aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui dulu, atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan-kegiatan bisa dilanjutkan, atau menjadi semacam peralatan double-check yang lebih menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
3.      Pengawasan umpan balik (feedback control)
Pengawasan umpan balik juga dikenal sebagai past-action controls, mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan. Sebab-sebab penyimpangan dari rencana atau standar ditentukan, dan penemuan-penemuan diterapkan untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Pengawasan ini bersifat historis, pengukuran dilakukan setelah kegiatan terjadi.
C.     TAHAP-TAHAP DALAM PROSES PENGAWASAN
Tahap-tahap proses pengawasan sebagai berikut :
1.              Penetapan standar
Standar adalah suatu satuan pengukuran yang dapat digunakan sebaga patokan suatu satuan pengukuran yang dapat digunakan sebagai patokan untu penilaian hasil-hasil.
Tiga bentuk standar yang umum adalah :
a.              Standar-standar phisik, meliputi kuantitas barang atau jasa, jumlah langganan, atau kualitas produk.
b.              Standar-standar moneter, ditunjukkan dalam rupiah dan mencakup biaya tenaga kerja, biaya penjualan, laba kotor, pendapatan penjualan, dan sejenisnya.
c.              Standar-standar waktu, meliputi kecepatan produksi atau batas waktu suatu pekerjaan harus diselesaikan.



2.              Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Penetapan standar adalah sia-sia waktu bila tidak disertai berbagai cara untuk mengukur pelaksanaan kegiatan nyata. Oleh karena itu, tahap kedua dalam pengawasan adalah menentukan pengukuran pelaksanaan kegiatan secara tepat.
3.              Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Setelah frekuensi pengukuran dan sistem monitoring ditentukan, pengukuran pelasanaan dilakukan ebagai proses yang ulang-ulang dan terus –menerus.
4.              Pembandingan Pelaksanaan dengan Standar dan Analisa Penyimpangan
Tahap kritis dari proses pengawasan adalah pembandingan pelaksanaan nyata dengan pelaksanaan nyata pelaksanaan yang direncanakan atau standar yang telah ditetapkan. Walaupun tahap ini paling mudah dilakukan, tetapi komplesitas dapat terjadi pada saat mengnterprestasikan adanya penyimpangan (deviasi).
5.              Pengambilan Tindakan Koreksi Bila Diperlukan
Bila hasil analisa menunjukkkan perlunya tindakan koreksi, tindakan ini harus diambil. Tindakan koreksi dapat diambil dalam berbagai bentuk. Standar mungkin diubah, pelaksanaan diperbaiki, atau keduanya dilakukan bersamaan.
Tindakan koreksi dapat berupa :
a.              Mengubah standar mula-mula (barangkali terlalu tinggi atau terlalu rendah)
b.              Mengubah pengukuran pelaksanaan (inspeksi terlalu sering frekuensinya atau kurang atau bahkan mengganti sistem pengukuran itu sendiri).
c.              Mengubah cara dalam menganalisa atau menginterpresikan penyimpangan-penyimpangan.
D.    PENTINGNYA PENGAWASAN
Faktor yang membuat pengawasan semakin diperlukan oleh setiap organisasi :
1.    Perubahan lingkungan organisasi
Berbagai perubahan lingkungan organisasi terjadi terus-menerus dan tak dapat dihindari, seperti munculnya inovasi produk dan pesaing baru, diketemukannya bahan baku baru, adanya peraturan pemerintah baru, dan sebagainya.
2.    Peningkatan kompleksitas organisasi
Semakin besar organisasi semakin memerlukan pengawasan yang lebih formal dan hati-hati. Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin bahwa kualitas dan profitabilitas tetap terjaga, penjualan eceran pada para penyalur perlu di analisa dan dicatat secara tepat; bermacam-macam organisasi, luar dan dalam negeri.


3.    Kesalahan-kesalahan
Bila para bawahan tidak pernah membuat kesalahan, menejer dapat secara sederhana melakukan fungsi pengawasan. Tetapi kebanyakan anggota organisasi sering membuat kesalahan misalnya memesan barang atau komponen yang salah.
4.    Kebutuhan Manajer untuk mendelegasikan wewenang
Bila manajer mendelegasikan wewenang kepada bawahannya tanggungjawab atasan itu sendiri tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menentukan apakah bawahan telah melakukan tugas-tugas yang telah dilimpahkan kepadanya adalah dengan mengimplementasikan sistem pengawasan.
E.     PERANCANGAN PROSES PENGAWASAN
William H. Newman mengemukakan prosedur untuk penetapan sistem pengawasan  dalam lima langkah yaitu :
1.    Merumuskan hasil yang diinginkan. Manajer harus merumuskan hasil yang akan dicapai sejelas mungkin. Tujuan yang dinyatakan secara umum atau kurang jelas seperti “pengurangan biayaoverhead” perlu dirumuskan lebih jelas seperti “pengurangan biaya overhead dengan 12%”.
2.    Menetapkan penunjuk (predictors) hasil. Tujuan pengawasan sebelum selama kegiatan dilaksanakan agar manajerdapat mengatasi dan memperbaiki adanya penyimpangan sebelum kegiatan diselesaikan. Newman telah mengidentifikasikan beberapa early warning predictors yang dapat membantu manajer memperkirakan apakah hasil yang diinginkan tercapai atau tidak, yaitu :
a.    Pengukuran masukan
b.    Hasil-hasil pada tahap-tahap permulaan
c.    Gejala-gejala (symptoms)
d.    Perubahan dalam kondisi yang diasumsikan
3.    Menetapkan standar penunjuk dan hasil. Penetapan standar untuk penunjuk hasil akhir adalah bagian penting perancangan prosese pengawasan. Tanpa penetapan standar, manajer mungkin memberikan perhatian yang lebih terhadap penyimpangan kecil atau tidak bereaksi terhadap penyimpangan besar.
4.    Menetapkan jaringan informasi dan umpan balik. Langkah keempat dalam perancangan suatu siklus pengawasan adalah menetapkan sarana untuk pengumpulan informasi petunjuk dan pembandingan penunjuk terhadap standar. Jaringan kerja komunikasi dianggap baik apabila aliran tidak hanya ke atas tetapi juga ke bawah kepada siapa yang harus mengambil tindakan koreksi. Disamping itu, jaringan ini harus cukup efisien untuk menyediakan informasi balik yang relevan kepada personalian kunci yang memerlukannya. Komunikasi pengawasan sering didasarkan pada prinsip “management by exception”. Prinsip ini menyarankan bahwa atasan hanya diberi informasi bila terjadi penyimpangan besar dari standar atau rencana.
5.    Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi. Langkah terakhir adalah pembandingan penunjuk dengan standar, penentuan apakah tindakan koreksi perlu diambil, dan kemudian pengambilan tindakan.
F.      BIDANG-BIDANG PENGAWASAN STRATEGIK
      Bidang strategik yang dapat membuat organisasi secara keseluruhan mencapai sukses yaitu:
a.       Transaksi keuangan
·         Analisis keuangan (financial statement analysis)
Analisa keuangan merupakan proses yang penuh pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan pada masa sekarang dan masa lalu,dengan tujuan untuk menentukan estimasi dan prediksi yang paling mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa mendatang
·         Manajemen kas (cash manajemen)
·         Pengelolaan biaya (cost control)
b.      Hubungan manajer dan bawahan
Hubungan antara manajer dan bawahan juga harus baik dan terjaga. Sebisa mungkin ada hubungan 2 arah antara manajer dan bawahan bukan hubungan searah dimana manager terus terusan memberi perintah kepada bawahan tanpa mau mendengar keluhan dan perasaan bawahannya. Bila ada hubungan harmonis seperti keluarga dalam suatu perusahaan maka akan tercipta team kerja yang solid dan kuat dalam menjalankan perusahaan
c.       Operasi operasi produktif
G.    ALAT BANTU PENGAWASAN MANAJERIAL
Dua teknik yang paling terkenal dalam pengawasan manajerial adalah manajemen dengan pengecualian (management by exception) dan sistem informasi manajemen (management information system).
1.      Management By Exception (MBE)
MBE memungkinkan manajer untuk mengarahkan perhatiannya pada bidang-bidang pengawasan yang paling kritis dan mempersilahkan para karyawan atau tingkatan manajemen rendah untuk menangani variasi-variasi rutin. MBE dapat dipraktekkan oleh manajer-manajer penjualan, produksi, keuangan, personalia, pengawasan mutu, dan bidang-bidang fungsional lainnya serta manajer lini.
Pengawasan yang ditunjukan pada terjadinya kekecualian ini murah, tetapi penyimpangan baru dapat diketahui setelah kegiatan terlaksana. MBE biasa digunakan untuk operasi-operasi organisasi bersifat otomastis dan rutin.
2.      Management Information System (MIS)
MIS didefinisikan sebagai suatu metoda formal pengadaan dan penyediaan bagi manajemen, informasi yang diperlukan dengan akurat dan tepat waktu untuk membantu proses pembuatan keputusan dan memungkinkan fungsi-fungsi perencanaan, pengawasan dan operasional organisasi dilaksanakan secara efektif.
MIS dirancang melalui beberapa tahap utama, yaitu:
a)      Tahap survey pendahuluan dan perumusan masalah
 b) Tahap disain konseptual
c) Tahap disain  terperinci
d) Tahap implementasi akhir.
Agar perancangan MIS berjalan efektif, manajemen perlu memperhatikan lima pedoman berikut ini:
a)      Mengikut sertakan pemakaian (unsur) ke dalam tim perancang.
b)      Mempertimbangkan secara hati-hati biaya sistem.
c)      Memperlakukan informasi yang relevan dan terdeteksi lebih daripada pertimbangan kuantitas belaka.
d)      Pengujian pendahuluan sebelum diteapkan.
e)      Menyediakan latihan dan dokumentasi tertulis yang mencukupi bagi para operator dan pemakaian sistem.
H.    KARAKTERISTIK-KARAKTERISTIK PENGAWASAN YANG EFEKTIF
Kriteria-kriteria utama agar sistem pengawasan menjadi efektif, yaitu:
a)      Akurat. Informasi tentang pelaksanaan kegiatan harus akurat. Data yang tidak akurat dari sistem pengawasan dapat menyebabkan organisasi mengambil tindakan koreksi yang keliru bahkan menciptakan masalah yang sebenarnya tidak ada.
b)      Tepat Waktu. Informasi harus dikumpulkan, disampaikan dan dievaluasi secepatnya bila kegiatan perbaikan harus dilakukan segera.
c)      Obyektif dan menyeluruh. Informasi harus mudah dipahami dan bersifat obyektif serta lengkap.
d)      Terpusat pada titik-titik pengawasan strategik. Sistem pengawasan harus memusatkan perhatian pada bidang-bidang di mana penyimpangan dari standar paling sering terjadi atau yang akan mengakibatkan kerusakan paling fatal.
e)      Reallistik secara ekonomis. Biaya pelaksanaa sistem pengawasan harus lebih rendah atau paling tidak sama dengan kegunaan yang diperoleh dari sistem tersebut.
f)        Realistik secara organisasional. Sistem pengawasan harus cocok atau harmonis dengan kenyataan-kenyataan organisasi.
g)      Terkoordinasi dengan aliran kerja organisasi. Informasi pengawasan harus terkoordinasi dengan aliran kerja organisasi, karena (1) setiap tahap dari proses pekerjaan dapat mempengaruhi sukses atau kegagalan keseluruhan operasi, dan (2) informasi pengawasan harus sampai pada seluruh personalia yang memerlukannya.
h)      Fleksibel. Pengawasan harus mempunyai fleksibilitas untuk memberikan tanggapan atau reaksi terhadap ancaman ataupun kesempatan dari lingkungan.
i)        Besifat sebagai petunjuk dan operasional. Sistem pengawasan efektif harus menunjukkan, baik deteksi atau deviasi dari standar, tindakan koreksi apa yang seharusnya diambil.
j)        Diterima para anggota organisasi. Sistem pengawasan harus mampu mengarahkan pelaksanaan kerja para anggota organisasi dengan mendorong perasaan otonomi, tanggung jawab dan berprestasi.




















BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Dalam proses pengawasan terdapat tipe-tipe pengawasan, yaitu pengawasan pendahuluan, pengawasan concurrent, dan pengawasan umpan balik. Kemudian tahap-tahap dalam proses pengawasan terdapat 5 tahapan, yaitu penetapan standar, penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan, pengukuran pelaksanaan kegiatan, pembandingan pelaksanaan dengan standar dan analisa penyimpangan, dan pengambilan tindakan koreksi bila diperlukan. Pentingnya pengawasan juga sering mempunyai konotasi yang tidak menyenangkan karena dianggap akan mengancam kebebasan dan otonomi pribadi lalu perancangan proses pengawasan terdapat 5 tahapan, yaitu merumuskan hasil yang diinginkan, menetapkan penunjuk hasil, menetapkan standar penunjuk dan hasil, menetapkan jaringan informasi dan umpan balik, dan menilai informasi serta mengambil tindakan koreksi. Dalam melaksanakan proses pengawasan terdapat alat bantu untuk mempermudahkannya, yaitu Management By Exception dan Management Information System. Untuk menjadi efektif sistem pengawasan juga harus memenuhi kriteria tertentu, yaitu akurat, tepat waktu, obyektif dan menyeluruh, terpusat pada titik-titik pengawasan strategik, realistic secara ekonomis, realistic secara organisasional, terkoordinasi dengan aliran kerja organisasi, fleksibel, bersifat sebagai petunjuk dan operasional, serta diterima oleh para anggota organisasi.

B.     Saran
Dalam melaksanakan pengawasan diperlukan kerjasama yang baik dengan seluruh stakeholders agar dapat terlaksana dengan baik serta meminimalkan resiko yang tidak diinginkan



Daftar Pustaka

Handoko, Hani. 2003. Manajemen. Edisi . Yogyakarta: BPFE YOGYAKARTA. 


abdulmalik007.blogspot.com/2012/01/manajemen-umum-dasardasar-proses.html?m=1



http://andrieardiawan1.blogspot.com/2012/01/bidang-bidang-pengawasan-strategik.html?m=1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Flash Blogging Bareng KOMINFO : " Menuju Indonesia Maju"